Hari Jum’at lalu ada yang tidak biasa dengan jadwal bangun tidur saya. Oke, harus saya akui, saya susah sekali bangun pagi-pagi, apalagi kalau malamnya harus begadang untuk tugas. Nah, Jumat kemarin saya bangun pagi dan tanpa sengaja mendengarkan acara berita di televisi. Kamar saya di kos memang paling dekat dengan ruang TV, jadi tanpa saya keluar kamar pun saya bisa mendengar berita pagi itu. Nah, disinilah masalahnya. Meski otak saya mungkin masih booting, ternyata telinga saya sudah canggih mendengarkan berita dan memaksa otak saya untuk booting lebih cepat supaya bisa mencerna berita. Waktu itu beritanya tentang kriminalitas perkotaan.
Saya tidak ingat persisnya seperti apa kata-katanya tapi secara garis besar seperti ini:
Empat orang pencuri menjadi bulan-bulanan massa setelah tertangkap basah mencuri di salah satu rumah kosong di Perumahan bla bla bla di Bekasi. Para pencuri ini kedapatan mengambil barang-barang berupa perhiasan dan handy-cam. Sebelum berhasil ditangkap, para pencuri sempat berusaha lari dan dikejar oleh warga serta polisi sebelum akhirnya ditangkap dan dihakimi warga. Dua orang pelaku bahkan dilucuti pakaiannya hingga telanjang.
Nah, seperti itulah kira-kira narasi beritanya. Ada yang menurut kalian salah atau aneh? Kalau masih belum menemukan coba baca lagi. Kata kuncinya adalah tentang orang yang terlibat. Yah, saya merasakan ada kontradiksi yang ‘parah’ dari kasus ini. Ada tiga subjek yang terlibat di kasus ini; warga, aparat yaitu polisi, dan para pencuri. Nah, kembalikan kasus ini ke konteks negara kita sebagai negara hukum. Hukum yang diberlakukan tentunya dimaksudkan untuk mengatur masyarakat supaya tidak terjadi kekacauan dan pelanggaran atas hak-hak manusia. Siapa yang memastikan hukum ditegakkan? Tentunya para penegak hukum yang di kasus ini diwakili oleh polisi. Dan para pelaku kejahatan, mereka tetap warga negara yang memiliki hak untuk dihormati hak-hak dasarnya sekaligus wajib menerima konsekuensi hukum atas perbuatannya.
Namun di kasus ini, hal yang saya lihat sangat lain. Hukum yang coba ditegakkan bukan hukum yang kita sepakati bersama. Yaitu ketika seseorang melakukan tindak criminal, dia harus melalui proses peradilan untuk menerima hukumannya. Di kasus pencurian ini yang terjadi adalah para kriminal ‘diadili’ secara langsung oleh masyarakat dengan cara dimassa. Tapi apa yang mencengangkan saya? Aparat diam saja. Dalam kasus ini jelas sekali ada aparat yang ikut mengejar, tapi mengapa mereka tidak menghentikan massa yang menghakimi para pencuri dengan cara memukuli dan menelanjangi?
Yang bisa saya tangkap dari sini adalah bahwa kultur kekerasan seperti yang digambarkan berita ini telah menjadi suatu kewajaran dalam masyarakat. Bahkan aparat saja tak merasa perlu untuk menghentikan. Saya jadi berpikir, jika pewajaran ini terus berlanjut. Akan berapakah jumlah pelaku kriminal yang kehilangan nyawa di masa depan tanpa pernah menjalani proses peradilan? Hemm..saya jadi ngeri pagi itu.