Senin, 31 Oktober 2011

What is this feeling?


I wrote this last week when I was facing a hard time finishing my scholarship application:
            “When other people just walk, I opt to run as fast as I can. They may warn me that I will be exhausted in the end, yet I will answer them confidently ‘that is not a big deal as long as I reach the finish line the first’.’

but now, I ask myself ‘Am I really running, or just imagining it?”

Fighting the Night


The hardest time of my day is the midnight time
When I hardly can close my eyes
And let myself walk the journey of calming dream
Instead of the calming dream, it’s the fear that moves toward me
The fear of being a small entity who dreams to make a change in my life
but fail to realize, dreaming only does not make any difference


Senin, 24 Oktober 2011

I am Back My Almighty

Leaving You for quite some time, I am back now....lead me to Your way..and let me see Your wonders...

*freeze in time of self retrospection*

Sabtu, 22 Oktober 2011

Kultur Kekerasan dan Potretnya di Media


Hari Jum’at lalu ada yang tidak biasa dengan jadwal bangun tidur saya. Oke, harus saya akui, saya susah sekali bangun pagi-pagi, apalagi kalau malamnya harus begadang untuk tugas. Nah, Jumat kemarin saya bangun pagi dan tanpa sengaja mendengarkan acara berita di televisi. Kamar saya di kos memang paling dekat dengan ruang TV, jadi tanpa saya keluar kamar pun saya bisa mendengar berita pagi itu. Nah, disinilah masalahnya. Meski otak saya mungkin masih booting, ternyata telinga saya sudah canggih mendengarkan berita dan memaksa otak saya untuk booting lebih cepat supaya bisa mencerna berita. Waktu itu beritanya tentang kriminalitas perkotaan.
            Saya tidak ingat persisnya seperti apa kata-katanya tapi secara garis besar seperti ini:
Empat orang pencuri menjadi bulan-bulanan massa setelah tertangkap basah mencuri di salah satu rumah kosong di Perumahan bla bla bla di Bekasi. Para pencuri ini kedapatan mengambil barang-barang berupa perhiasan dan handy-cam. Sebelum berhasil ditangkap, para pencuri sempat berusaha lari dan dikejar oleh warga serta polisi sebelum akhirnya ditangkap dan dihakimi warga. Dua orang pelaku bahkan dilucuti pakaiannya hingga telanjang.
            Nah, seperti itulah kira-kira narasi beritanya. Ada yang menurut kalian salah atau aneh? Kalau masih belum menemukan coba baca lagi. Kata kuncinya adalah tentang orang yang terlibat. Yah, saya merasakan ada kontradiksi yang ‘parah’ dari kasus ini. Ada tiga subjek yang terlibat di kasus ini; warga, aparat yaitu polisi, dan para pencuri. Nah, kembalikan kasus ini ke konteks negara kita sebagai negara hukum. Hukum yang diberlakukan tentunya dimaksudkan untuk mengatur masyarakat supaya tidak terjadi kekacauan dan pelanggaran atas hak-hak manusia. Siapa yang memastikan hukum ditegakkan? Tentunya para penegak hukum yang di kasus ini diwakili oleh polisi. Dan para pelaku kejahatan, mereka tetap warga negara yang memiliki hak untuk dihormati hak-hak dasarnya sekaligus wajib menerima konsekuensi hukum atas perbuatannya.
            Namun di kasus ini, hal yang saya lihat sangat lain. Hukum yang coba ditegakkan bukan hukum yang kita sepakati bersama. Yaitu ketika seseorang melakukan tindak criminal, dia harus melalui proses peradilan untuk menerima hukumannya. Di kasus pencurian ini yang terjadi adalah para kriminal ‘diadili’ secara langsung oleh masyarakat dengan cara dimassa. Tapi apa yang mencengangkan saya? Aparat diam saja. Dalam kasus ini jelas sekali ada aparat yang ikut mengejar, tapi mengapa mereka tidak menghentikan massa yang menghakimi para pencuri dengan cara memukuli dan menelanjangi?
 Yang bisa saya tangkap dari sini adalah bahwa kultur kekerasan seperti yang digambarkan berita ini telah menjadi suatu kewajaran dalam masyarakat. Bahkan aparat saja tak merasa perlu untuk menghentikan. Saya jadi berpikir, jika pewajaran ini terus berlanjut. Akan berapakah jumlah pelaku kriminal yang kehilangan nyawa di masa depan tanpa pernah menjalani proses peradilan? Hemm..saya jadi ngeri pagi itu.    

Kamis, 13 Oktober 2011

Saya Rindu, yang Benar-Benar Rindu


 
            Kenapa judul saya seperti itu? Ya, karena saya baru sadar kalo saya sering pura-pura rindu. Mau contohnya? Oke, kalo saya ketemu teman yang tidak terlalu akrab tapi kita sudah lama sekali tidak bertemu dan dia begitu bersemangat bertemu saya. Maka entah kenapa saya akan bilang “iya, kangen ne” padahal sebenarnya saya tidak benar-benar merasakannya. Tapi untuk kali ini, rindu yang akan saya ceritakan adalah rindu yang sebenarnya. Saya rindu pada satu orang teman yang setiap kali saya hubungi handphone-nya, saya akan selalu dijawab dengan nada ketus,
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area.”
            Lalu saya akan mencobanya dua kali lagi. Bukan, bukan karena saya ingin memastikan nomornya memang benar-benar tidak aktif. Saya melakukannya justru karena saya sudah sangat yakin nomornya tidak aktif dan tidak akan pernah aktif lagi. Pengulangan yang saya lakukan lebih sebagai sebuah ‘ritual’ untuk mengurangi kadar rindu yang saya rasakan. Ya, karena saya (sangat) tahu. Saya dan dia ada di service area yang (sangat) berbeda. Yang bahkan ilmuwan tercerdaspun tidak akan bisa membantu saya pergi kesana tanpa membunuh saya.

Rabu, 12 Oktober 2011

Terima Kasih, Saya Terlahir Jelek


Saya punya seorang ‘teman’ yangsetiap saya melihatnya, saya selalu merasa sedih. Sedih sekali bahkan. Karena background ekonominya? Bukan, dia kaya bahkan bermobil ke kampus. Dia tidak pintar? Bukan juga, pintar atau tidak saya tidak peduli. Saya justru sedih karena dia cantik. Kalau kalian berpikir penyebab saya sedih karena saya iri dan cemburu, kalian salah besar. Saya sama sekali tidak cemburu, saya justru kasihan pada ‘teman’ saya yang satu ini.
            Dia cantik dan dia terjebak dalam wacana kecantikannya sendiri. Hasilnya? Dia benar-benar menyedihkan. Cara dia berjalan layaknya sedang berada diatas catwalk. Mungkin karena dia berpikir semua orang memandangnya dan berekspektasi dia berjalan layaknya model kelas atas, makanya dia seperti itu. Cara dia duduk lebih parah lagi. Coba bayangkan cara duduk para model kelas atas kita misalnya Dominique. Punggung selalu tegak menantang. Dan percayalah, dia duduk dengan cara itu selama berjam-jam. Padahal saya sudah berganti pose duduk ratusan kali (lebay). Dari sandaran-tegak-sandaran-malas-malasan-tegak-sandaran lagi dan seterusnya. Saya benar-benar khawatir beberapa tahun (atau bulan?) lagi punggungnya akan patah.
            Performa akademisnya lebih hancur lagi. Oke, saya tidak pintr, tapi setidaknya saya cukup percaya diri untuk menyebut diri saya tidak separah dia. Mungkin karena dia merasa teman-teman di kelas sudah cukup puas melihatnya berdiri di depan kelas, maka dia tidak (atau belum) pernah benar-benar mempersiapkan presentasi dengan baik. Hasilnya? Presentasinya selalu sampah dan saya benci harus menghabiskan waktu mendengarkannya. Ini penilaian saya yang sifatnya sangat subjektif dan judgemental tapi beberapa teman yang lain pun mengamini.
            Oke, intinya saya sedih karena dia cantik dan saya (untuk pertama kalinya) bersyukur saya terlahir jelek. Karena saya jelek, makanya saya berusaha untuk tidak menjadi lebih menyedihkan lagi. Lebih baik lagi, saya tidak terjebak dalam wacana sempit kecantikan seperti dia. Ah, Alhamdulillah.    
 
Designed by Lena