Kenapa judul saya seperti itu? Ya, karena saya baru sadar kalo saya sering pura-pura rindu. Mau contohnya? Oke, kalo saya ketemu teman yang tidak terlalu akrab tapi kita sudah lama sekali tidak bertemu dan dia begitu bersemangat bertemu saya. Maka entah kenapa saya akan bilang “iya, kangen ne” padahal sebenarnya saya tidak benar-benar merasakannya. Tapi untuk kali ini, rindu yang akan saya ceritakan adalah rindu yang sebenarnya. Saya rindu pada satu orang teman yang setiap kali saya hubungi handphone-nya, saya akan selalu dijawab dengan nada ketus,
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area.”
Lalu saya akan mencobanya dua kali lagi. Bukan, bukan karena saya ingin memastikan nomornya memang benar-benar tidak aktif. Saya melakukannya justru karena saya sudah sangat yakin nomornya tidak aktif dan tidak akan pernah aktif lagi. Pengulangan yang saya lakukan lebih sebagai sebuah ‘ritual’ untuk mengurangi kadar rindu yang saya rasakan. Ya, karena saya (sangat) tahu. Saya dan dia ada di service area yang (sangat) berbeda. Yang bahkan ilmuwan tercerdaspun tidak akan bisa membantu saya pergi kesana tanpa membunuh saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar