Rabu, 12 Oktober 2011

Terima Kasih, Saya Terlahir Jelek


Saya punya seorang ‘teman’ yangsetiap saya melihatnya, saya selalu merasa sedih. Sedih sekali bahkan. Karena background ekonominya? Bukan, dia kaya bahkan bermobil ke kampus. Dia tidak pintar? Bukan juga, pintar atau tidak saya tidak peduli. Saya justru sedih karena dia cantik. Kalau kalian berpikir penyebab saya sedih karena saya iri dan cemburu, kalian salah besar. Saya sama sekali tidak cemburu, saya justru kasihan pada ‘teman’ saya yang satu ini.
            Dia cantik dan dia terjebak dalam wacana kecantikannya sendiri. Hasilnya? Dia benar-benar menyedihkan. Cara dia berjalan layaknya sedang berada diatas catwalk. Mungkin karena dia berpikir semua orang memandangnya dan berekspektasi dia berjalan layaknya model kelas atas, makanya dia seperti itu. Cara dia duduk lebih parah lagi. Coba bayangkan cara duduk para model kelas atas kita misalnya Dominique. Punggung selalu tegak menantang. Dan percayalah, dia duduk dengan cara itu selama berjam-jam. Padahal saya sudah berganti pose duduk ratusan kali (lebay). Dari sandaran-tegak-sandaran-malas-malasan-tegak-sandaran lagi dan seterusnya. Saya benar-benar khawatir beberapa tahun (atau bulan?) lagi punggungnya akan patah.
            Performa akademisnya lebih hancur lagi. Oke, saya tidak pintr, tapi setidaknya saya cukup percaya diri untuk menyebut diri saya tidak separah dia. Mungkin karena dia merasa teman-teman di kelas sudah cukup puas melihatnya berdiri di depan kelas, maka dia tidak (atau belum) pernah benar-benar mempersiapkan presentasi dengan baik. Hasilnya? Presentasinya selalu sampah dan saya benci harus menghabiskan waktu mendengarkannya. Ini penilaian saya yang sifatnya sangat subjektif dan judgemental tapi beberapa teman yang lain pun mengamini.
            Oke, intinya saya sedih karena dia cantik dan saya (untuk pertama kalinya) bersyukur saya terlahir jelek. Karena saya jelek, makanya saya berusaha untuk tidak menjadi lebih menyedihkan lagi. Lebih baik lagi, saya tidak terjebak dalam wacana sempit kecantikan seperti dia. Ah, Alhamdulillah.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Designed by Lena